Cerita Rakyat

Cerita Rakyat, Fakta atau Fiksi?

Cerita rakyat sudah hampir terlupakan untuk dijadikan sarana edukasi anak-anak sekarang ini. Salah satu sebabnya adalah karena suguhan media elektronik yang lebih menarik perhatian daripada harus mendengar atau membaca mengenai cerita-cerita rakyat itu sendiri. Soal kebenaran tentang cerita rakyat, ada yang mengatakan tidak benar dan tidak lebih hanya sebuah dongeng yang dibuat-buat dengan tujuan untuk menemani anak-anak di kala mereka mau tidur. Namun ada pula cerita rakyat yang (mungkin saja) bersumber dari kejadian nyata yang ada, yaitu cerita rakyat yang mengisahkan asal mula penamaan pulau-pulau oleh suku Mentawai di Simatalu, Siberut Utara, kepulauan Mentawai, Sumatra Barat.

cerita rakyat malin kundang

cerita rakyat malin kundang – anneahira.com

Nama-nama seperti Bulau Buggei (pasir putih), Bele Raksok (gelang jatuh), Dua Monga (dua muara), Mapaddegat (pohon paddegat) adalah hasil dari pengembaraan tanpa henti orang-orang dari suku Mentawai di Simatalu. Pengembaraan itu sendiri berakhir di Tuapejat, yang kini menjadi ibukota kabupaten kepulauan Mentawai. Sebab pengembaraan itu terjadi dikisahkan untuk menghindari perpecahan yang disebabkan oleh konflik antar tetangga.

cerita rakyat

cerita rakyat – sro.web.id

Pelestarian Cerita Rakyat

Selain cerita rakyat mengenai kepulauan Mentawai, cerita rakyat yang sering sekali didongengkan kepada anak-anak yaitu apalagi kalau bukan cerita rakyat “Malin Kundang”. Cerita yang berkisah tentang durhakanya seorang anak lelaki terhadap ibu kandungnya ini seolah tidak pernah luntur pesonanya untuk dikisahkan. Ada kalanya cerita rakyat seperti cerita “Malin Kundang” tersebut didongengkan dengan maksud untuk menasehati anak-anak bahkan tanpa sengaja seperti menakut-nakuti anak-anak dengan cerita tersebut.

Cerita rakyat dengan beragam morale of the story yang dimilikinya adalah sarana pembangunan karakter anak yang harus lebih diperhatikan keberadaannya. Orangtua semestinya menjadikan cerita rakyat sebagai alat untuk mendidik dan membentuk karakter anak yang baik moralnya. Melalui mengisahkan sebuah cerita, tidak jarang juga terbentuk sebuah ikatan yang lebih kuat antara orangtua dan anak. Dengan alasan apapun cerita rakyat tersebut dipakai sebaiknya tetap dilestarikan bahkan dibuat yang lebih menarik sehingga anak-anak khususnya zaman sekarang ini bisa lebih mengenal dengan baik cerita rakyat di negerinya sendiri.

Dibaca 770 kali

Bagikan rasa takut kalian...Share on FacebookTweet about this on TwitterShare on TumblrShare on Google+Pin on PinterestShare on LinkedInShare on RedditShare on StumbleUponPrint this page
Tags:  

Leave a reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>